Ehm, jadi begini. Bakso aci atau yang
biasa kita sebut dengan baso aci adalah salah satu kuliner khas Garut yang
sampai saat ini masih digandrungi oleh banyak kalangan. Kuliner ini terbuat
dari tepung kanji atau yang biasa orang sunda sebut aci. Secara tampilan,
makanan ini ini sangat mirip dengan cilok kuah. Namun, kedua kuliner khas Jawa
Barat tersebut mempunyai penyajian dan rasa yang berbeda. Ia mempunyai ciri
khas kuah yang gurih, asam dengan aroma kencur yang menggugah selera.
Jika mengunjungi Garut, baso aci adalah
salah satu jajanan yang wajib dinikmati. Kita dapat menyambangi warung-warung
baso aci di Kota Garut yang jumlahnya mencapai ratusan. Sebut saja salah satu
yang paling populer di kalangan pecintanya yaitu Warung Baso Aci Ceu Imas yang
berlokasi di Jalan Karacak No.49, Kota Kulon, Kabupaten Garut. Baso Aci Ceu
Imas memiliki kuah yang khas dengan perasan jeruk limau dan taburan ayam suwir.
Untuk menikmati semangkuk baso aci khas Ceu Imas, pelanggan harus rela
berlama-lama menunggu dalam antrian pelanggannya harus adu cepat untuk berada dalam
antrian dengan pelanggan lain yang berasal dari dalam dan luar Kota Garut.
Sama halnya dengan cinta, makanan enak harus
diperjuangkan.
Tidak hanya di Garut saja, kuliner
berbentuk bulat-bulat dan bertekstur kenyal ini sudah mulai merambah ke pasar
nasional. Pasalnya, penggemar makanan ini kini tidak hanya terbatas penduduk
Kota Garut saja. Bahkan, beberapa pengusaha kuliner di kota-kota lain, seperti
Semarang, Tasikmalaya, Bandung, dan kota-kota di luar pulau Jawa pun sudah
mulai memproduksi dan menjajakan baso aci dengan inovasi penyajian, kemasan,
dan cita rasa yang beragam. Di Indonesia sendiri, kuliner ini mulai populer
sejak tahun 2016.
Dari Garut, oleh Garut, untuk Indonesia.
Beberapa tahun ke belakang, lidah kita
sudah dibuat kebarat-kebaratan dengan populernya bumbu-bumbu dan bahan tambahan
dari negara luar. Sebut saja ayam penyet mozarela, bakso mercon mozarela, nasi
goreng mozarela, sate ayam mozarela, ikan asin mozarela, tahu aci mozarela, dan
mozarela-mozarela lainnya. Maka, tidak heran apabila lidah kita rindu dengan
masakan bercitarasa lokal. Rasanya seperti pulang kepangkuan ibu sambil disuapi
baso aci setelah tur keliling Benua Eropa.
Makanan paling enak adalah makanan ibu kita
sendiri, makanan ibu kita sendiri adalah makanan paling enak.
Kuah Gurih Bercitarasa Asam
Salah satu hal yang membekas dalam
ingatan setiap penikmat baso aci adalah kuahnya yang bercita rasa khas.
Kuah panas yang bercita rasa asam dan gurih memberikan kesegaran bagi lidah
siapapun yang menikmatinya. Kuah ini kalau dirasakan di lidah saya, lidah kamu,
lidah orang ketiga di antara saya dan kamu, saya yakin sama segarnya.
Kuah kuliner ini diracik dengan
bumbu-bumbu yang sudah biasa kita temui di pasar tradisional, dengan komposisi
antara air, garam, bumbu-bumbu dan rempah, kaldu, ebi, dan daun jeruk
menghasilkan kuah hangat yang pas di lidah dan tenggorokan. Kuahnya rasanya
hampir mirip dengan kuah seblak. Rasa gurih kaldu baso aci dengan tambahan kencur
menghasilkan cita rasa rempah yang Indonesia sekali. Bayangkan kalau semangkuk
kuah gurih ini dinikmati bersamaan dengan baso aci yang kenyal dalam keadaan
hangat-hangat di waktu hujan.
Selain itu, yang membuat yang spesial
adalah penyajiannya yang disandingkan dengan jeruk limau. Jangankan kuah baso
aci, kuah mi instan jika ditambah perasan jeruk limau juga pasti sedap. Semua
makanan berkuah jika diberi perasan jeruk limau rasanya jadi makanan enak.
Bayangkan kalau semangkuk kuah gurih dinikmati bersamaan dengan baso aci yang
kenyal dan perasan jeruk limau yang segar dalam keadaan hangat-hangat di waktu
hujan.
Sebentar, kurang apalagi ya?
Sambal?
Tepat sekali!
Bagi warga negara tercinta Indonesia ini,
belum makan rasanya kalau belum makan dengan tambahan sambal. Apalagi
kuliner-kuliner berkuah. Sambal adalah jodoh bagi kuliner kuah, jodoh
selamanya, seumur hidup! Baso aci adalah kuliner berkuah. Bayangkan kalau
semangkuk kuah gurih nan pedas dinikmati bersamaan dengan baso aci yang kenyal
dan perasan jeruk limau yang segar dalam keadaan hangat-hangat di waktu
hujan. Bayangkan!
Baso aci, tahu aci, ceker, tetelan, cuanki
lidah, sukro cikur, ayam suwir, toppingnya pilih saja, semua ada di meja~
Saya pernah ditanya oleh seseorang
perihal keberagaman dalam suatu kelompok, apakah keberagaraman adalah hal yang
baik untuk keberlanjutan kelompok tersebut? apakah keberagaman tidak akan
menghambat pencapaian tujuan-tujuan dari kelompok tersebut? Saya menjawab
dengan mantap bahwa keberagaman adalah hal yang menyenangkan. Bayangkan jika
kelompok itu adalah semangkuk baso aci dan segala isinya.
Semakin beragam, semakin kaya akan rasa.
Baso aci tanpa topping sudah enak. Sementara itu kalau ia ditambah tahu, ceker,
tetelan, cuanki lidah, sukro cikur, dan ayam suwir, pasti lebih nikmat.
Kenikmatan ini berasal dari keberagaman rasa dan tekstur dari setiap jenis
topping. Penambahan sukro cikur misalnya, selain sebagai tambahan rasa kencur,
bahan tambahan ini juga menghasilkan tekstur yang berbeda dari bahan-bahan
lainnya. Sukro cikur dalam semangkuk makanan ini, sama halnya dengan pangsit
dalam semangkuk mi ayam, kerupuk udang dalam dalam sepiring nasi di pesta
perkawinan, juga kerupuk dalam piring nasi uduk. Lagi-lagi ini soal jodoh.
Sukro cikur, sejak awal memang sudah ditakdirkan untuknya.
Tapi kak, saya nggak suka sukro cikur!
Bagi yang tidak suka sukro cikur, bisa
memilih topping lainnya, seperti ceker. Bagi yang tidak suka ceker, bisa pilih
topping yang lain selain ceker. Teman, yakinlah hidup ini sangat-sangat simpel,
janganlah sekali-kali dibuat susah. Dari banyaknya jenis topping untuk bakso aci, jangan terpaku pada ceker
ataupun sukro cikur saja. Dari banyaknya pria di luar sana, jangan
mempertahankan dia yang tidak setia. Ya.
Sebagai manusia yang lemah akan makanan
lezat dan keindahan alam, tentu saya tidak kuasa untuk menolak kombinasi antara
hangatnya kuah baso aci, ditambah dengan suasana asri dan dinginnya kaki Gunung
Cikuray. Jangankan ditawari situasi seperti itu, tidak ditawari pun saya mau.
Gunung Cikuray adalah gunung kawah aktif
yang berlokasi di Dayeuhmanggung, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Iklim di daerah
gunung Cikuray termasuk kedalam iklim tropis basah dengan temperatur udara yang
berkisar antara 10 hingga 24. Temperatur yang dingin, seperti daerah
dataran tinggi pada umumnya, membuat daerah ini menjadi lokasi yang tepat untuk
menikmati kuah hangat dan pedas dari semangkuk baso aci yang ditemani dengan
teh hangat.
satu hal terakhir yang ingin saya sampaikan pada penduduk Kota Garut yaitu ucapan terimakasih karena telah mencipta
Satu hal terakhir yang ingin saya sampaikan pada penduduk Kota Garut yaitu ucapan terimakasih karena telah menciptakan masterpiece bernama baso aci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar